Routine Core Analysis: Porositas, Permeabilitas, Rumus, dan Standar API RP 40

Pengertian routine core analysis (RCAL), cara mengukur porositas dan permeabilitas core, rumus porositas dengan contoh, koreksi Klinkenberg, dan acuan API RP 40.

Routine core analysis (RCA atau RCAL) adalah rangkaian uji laboratorium dasar pada sampel inti batuan (core) untuk mengukur porositas, permeabilitas, densitas butir, dan saturasi fluida. Datanya menjadi fondasi penilaian reservoir minyak, gas, dan panas bumi: berapa banyak fluida yang bisa disimpan batuan, dan seberapa mudah fluida itu mengalir ke sumur. Praktik pengujiannya mengacu pada API RP 40 (Recommended Practices for Core Analysis).

Ringkasnya

  • Porositas (φ) = volume pori ÷ volume total batuan × 100%.
  • Permeabilitas (k) mengukur kemudahan fluida mengalir, satuannya milidarcy (mD).
  • Pengukuran dilakukan pada plug core yang sudah dibersihkan dan dikeringkan.
  • Hasil RCA dipakai untuk rock typing, kalibrasi log, dan memilih sampel SCAL.

Apa yang diukur dalam routine core analysis?

ParameterArtiMetode umumSatuan
PorositasBagian volume batuan yang berupa ruang poriPorosimeter helium (hukum Boyle) + volume bulk% (fraksi)
PermeabilitasKemudahan fluida mengalir melalui pori yang saling terhubungAliran gas (nitrogen/udara) berdasarkan hukum Darcy, dikoreksi KlinkenbergmD
Densitas butirMassa butiran mineral per volume butirBerat kering ÷ volume butir (dari porosimeter)g/cm³
Saturasi fluidaProporsi pori yang terisi air dan minyakDistilasi-ekstraksi Dean-Stark% volume pori

Alur pengerjaan RCA di laboratorium

Diagram alur routine core analysis: core diterima, plug sampling, cleaning, drying, lalu pengukuran porositas, permeabilitas, densitas butir dan saturasi
Alur umum routine core analysis. Urutan dan jenis uji disesuaikan dengan program analisis tiap sumur.
  1. Penerimaan dan dokumentasi core — core diukur kedalamannya, dipindai gamma (core gamma) untuk dicocokkan dengan log sumur, difoto, dan dideskripsi litologinya.
  2. Pengambilan plug — silinder kecil (umumnya berdiameter 1 atau 1,5 inci) dibor dari core, biasanya horizontal (sejajar perlapisan) dan sebagian vertikal untuk melihat anisotropi permeabilitas.
  3. Pembersihan (cleaning) — sisa minyak, air formasi, dan garam dikeluarkan dengan ekstraksi pelarut. Pada tahap ini saturasi fluida bisa diukur dengan metode Dean-Stark.
  4. Pengeringan (drying) — plug dikeringkan di oven. Batuan kaya lempung sebaiknya dikeringkan pada suhu dan kelembapan terkontrol agar air yang terikat pada lempung tidak ikut hilang dan porositas tidak terbaca terlalu tinggi.
  5. Pengukuran — porositas, permeabilitas, dan densitas butir diukur pada plug yang sama.

Rumus porositas dan contoh perhitungannya

Porositas adalah perbandingan volume pori (Vp) terhadap volume total atau volume bulk batuan (Vb):

φ = Vp ÷ Vb × 100%, dengan Vp = Vb − Vg (Vg = volume butir).

Contoh: sebuah plug memiliki volume bulk 20,0 cm³. Porosimeter helium mengukur volume butirnya 16,2 cm³. Maka volume pori = 20,0 − 16,2 = 3,8 cm³, dan porositasnya = 3,8 ÷ 20,0 × 100% = 19%.

Porosimeter helium dipakai karena molekul helium sangat kecil dan tidak bereaksi dengan mineral, sehingga bisa masuk ke pori-pori halus yang saling terhubung. Hasilnya adalah porositas efektif (pori yang terhubung). Porositas total juga memperhitungkan pori yang terisolasi, dan biasanya hanya bisa diperoleh dengan menghancurkan sampel.

Permeabilitas dan koreksi Klinkenberg

Permeabilitas dihitung dari hukum Darcy: laju alir fluida melalui sampel sebanding dengan permeabilitas, luas penampang, dan beda tekanan, serta berbanding terbalik dengan viskositas fluida dan panjang sampel. Di laboratorium, pengukuran rutin memakai gas karena cepat dan tidak merusak sampel.

Masalahnya, pada pori yang sempit molekul gas “tergelincir” di dinding pori sehingga permeabilitas gas terbaca lebih tinggi daripada permeabilitas terhadap cairan. Efek ini dikoreksi dengan koreksi Klinkenberg (Klinkenberg, 1941). Semakin rendah permeabilitas batuan, semakin besar selisihnya, sehingga koreksi ini penting untuk batuan ketat.

Cara membaca hasil porositas dan permeabilitas

Klasifikasi berikut dirangkum dari klasifikasi umum (Levorsen, 1967; North, 1985) dan sering dipakai sebagai panduan kualitatif awal untuk reservoir batupasir. Batas nyata kelayakan reservoir sangat bergantung pada jenis fluida, tekanan, dan keekonomian lapangan.

KualitasPorositas (%)Permeabilitas (mD)
Sangat rendah< 5< 1
Rendah5–101–15
Sedang10–1515–50
Baik15–2050–250
Sangat baik20–25250–1.000
Istimewa> 25> 1.000

Data porositas dan permeabilitas biasanya diplot dalam crossplot (permeabilitas skala logaritmik terhadap porositas). Kelompok titik dengan tren yang sama menunjukkan rock type yang berbeda. Dari sini insinyur reservoir membuat persamaan untuk memperkirakan permeabilitas dari log porositas di interval yang tidak di-core.

Densitas butir sebagai pengecekan kualitas

Densitas butir membantu memeriksa konsistensi data dan menunjukkan mineralogi dominan. Sebagai acuan, densitas kuarsa sekitar 2,65 g/cm³, kalsit 2,71 g/cm³, dan dolomit 2,87 g/cm³. Nilai yang menyimpang jauh dapat menandakan mineral berat (misalnya pirit), sisa garam, atau pembersihan yang belum tuntas.

RCA, SCAL, dan analisis lain yang saling melengkapi

RCA dikerjakan pada banyak sampel. Hasilnya dipakai untuk memilih sampel yang mewakili tiap rock type, lalu sampel terpilih itu masuk ke special core analysis (SCAL) untuk mengukur tekanan kapiler, permeabilitas relatif, dan keterbasahan. Analisis petrografi pada sayatan tipis membantu menjelaskan mengapa sebuah sampel berpori baik atau buruk, misalnya karena semen kalsit atau mineral lempung pengisi pori.

Butuh data porositas dan permeabilitas untuk studi reservoir?

Diskusikan program routine core analysis, jumlah plug, dan analisis pendukungnya dengan tim BSILAB.

Lihat Layanan Routine Core Analysis
Konsultasi via WhatsApp

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu routine core analysis?

Routine core analysis (RCA atau RCAL) adalah uji laboratorium dasar pada sampel core untuk mengukur porositas, permeabilitas, densitas butir, dan saturasi fluida. Hasilnya dipakai untuk menilai kualitas reservoir, membuat rock type, mengkalibrasi log sumur, dan memilih sampel untuk special core analysis.

Bagaimana rumus porositas batuan?

Porositas sama dengan volume pori dibagi volume bulk batuan dikali 100 persen. Volume pori diperoleh dari volume bulk dikurangi volume butir. Misalnya volume bulk 20 cm³ dan volume butir 16,2 cm³, maka porositasnya 19 persen.

Apa itu API RP 40?

API RP 40 adalah Recommended Practices for Core Analysis dari American Petroleum Institute. Dokumen ini menjadi acuan cara penanganan core, pembersihan, pengeringan, dan pengukuran porositas, permeabilitas, serta saturasi fluida agar data antarlaboratorium dapat dibandingkan.

Mengapa permeabilitas gas perlu dikoreksi Klinkenberg?

Pada pori yang sempit, molekul gas tergelincir di dinding pori sehingga permeabilitas gas terbaca lebih tinggi daripada permeabilitas terhadap cairan. Koreksi Klinkenberg mengoreksi efek ini, dan dampaknya makin besar pada batuan berpermeabilitas rendah.

Apa beda porositas efektif dan porositas total?

Porositas efektif hanya menghitung pori yang saling terhubung dan dapat dialiri fluida, misalnya yang terukur dengan porosimeter helium. Porositas total juga mencakup pori yang terisolasi dan air yang terikat pada mineral lempung.

Rujukan: American Petroleum Institute (1998). API RP 40: Recommended Practices for Core Analysis, 2nd ed. · McPhee, C., Reed, J. & Zubizarreta, I. (2015). Core Analysis: A Best Practice Guide. Elsevier. · Klinkenberg, L.J. (1941). The Permeability of Porous Media to Liquids and Gases. API Drilling and Production Practice. · Levorsen, A.I. (1967). Geology of Petroleum. · North, F.K. (1985). Petroleum Geology.

Share your love